Saturday, 26 April 2014

Apa itu Gaul?

Apa itu Gaul? Gaul adalah kegiatan aktif dalam mencari kesempatan untuk menemukan orang-orang yang menarik untuk diajak membina hubungan. Dalam bahasa sederhana, gaul dapat diartikan berteman dan melakukan kegiatan hal-hal yang menyenangkan.

Siapa sangka, orang berhasil meraih kesuksesan sebagai hasil dari pertemanan. Contoh, seorang fotografer yang punya keterampilan sangat prima dan memahami teknik fotografi tercanggih, sayangnya, dia tidak menemukan alasan untuk maju. Setiap kali ditanya mengapa dia tidak membuat pameran, dia selalu meragukan tentang siapa nanti yang akan datang. Ketika dipaksa untuk membuat daftar kenalan, dia sendiri terkejut karena orang yang dikenalnya ternyata banyak juga. Dan, ketika pameran pun digelar, dia berhasil meraup sukses; banyak permintaan foto, bahkan ada yang mengajaknya bermitra.

Hubungan pertemanan yang mubazir jika kita tidak berusaha untuk menghidupkannya. Namun ketika kita mampu untuk memanfaatkannya, kita akan menemukan begitu banyak pintu yang mengajak kita ke dunia yang lebih luas. Dan itulah kekuatan dari bergaul!

Dalam gaul pun ada kendala yang kita hadapi bersumber dari dalam diri kita, yaitu………
COMFORT ZONE. Mengapa kondisi nyaman tak selalu menguntungkan, malah bisa menjadi kendala dalam pergaulan? Jawabannya adalah kita menjadi cenderung jalan di tempat, tak berani atau malasa membuka hubungan baru, karena kita merasa “sarang” kitalah sedemikian nyamannya.
SIKAP PEMALU. Jika kita tergolong pemalu, ayo ini saatnya untuk berubah. Karena, sikap pemalu adalah salah satu penghambat untuk terjun ke dalam pergaulan.

Ketika anda bergaul ada esensinya, yaitu proses di belakangnya. Gaul adalah proses yang berlanjut dan tidak ada matinya dalam membina hubungan dengan orang lain. Gaul juga berarti menjaga agar hubungan yang terbina akan terpelihara, yang pada akhirnya menguntungkan semua pihak.

Salam anak gaul! :P

Friday, 4 April 2014

Mendengar, Ada Seninya

Pembicaraan yang mengasyikkan itu sebenernya didasari rasa saling mengerti dan setiap orang sama-sama menikmatinya. Ini hanya bisa terjadi bila kedua pihak yang berbicara mempunyai kesempatan yang sama untuk mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaannya. Untuk itu kedua belah pihak pun harus bisa menjadi pendengar. Tentunya kebutuhan orang untuk mendengar dan didengar tidak sama. Ada yang lebih senang mendengar, dan ada juga yang lebih senang didengar. Bagi yang suka mendengar pun ingin memiliki kesempatan menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.  Namun, kenyataan yang sering kita hadapi, banyak sekali orang yang tidak sadar akan keterampilan mendengar. Sehingga sudah terlanjur berada di zona nyaman untuk selalu didengarkan. Hal tersebut dapat merugikan orang lain dan berdampak kepada dirinya sendiri.

Siapapun menyadari komunikasi dua arah lebih baik daripada satu arah dan yang menjadi masalah, terutama dalam situasi informal, orang tidak sadar bahwa dia sudah terlalu banyak berbicara. Ini membuktikan bahwa menjadi pendengar yang baik itu bukan perkara yang gampang. Sadari bahwa komunikasi pun mempunyai lalu lintas. Ketika kamu merasa sedang mendapatkan lampu hijau untuk berbicara, cobalah untuk berbicara secara efisien dan lampu hijau tidak akan menyala terus. Ada saatnya dimana lampu merah menyala, artinya kamu harus berhenti bicara dan pihak lain mendapatkan kesempatan untuk berbicara.

Kamu perlu melatih diri sendiri untuk mengaturnya dan kesadaran ini datang dari diri kamu. Bila lawan bicara lebih dari satu, usahakan agar setiap orang sempat mengungkapkan diri dan terlibat dalam komunikasi. Jangan mendominasi pembicaraan, berusahalah menjadi pendengar aktif bagi pihak lain.